Kenapa Bekam Perlu Sinergi dengan TCM | Rumah Bekam Surabaya
| Pondok Bekam Indonesia
Bekam merupakan salah satu metode pengobatan yang mendapat
stempel dari Rasulullah SAW sebagai metode pengobatan terbaik sebagai mana
sabda beliau : " Sesungguhnya cara (metode ) terbaik yang kalian gunakan
untuk berobat adalah Al-Hijamah atau Bekam" [HR Muttafaqun 'Alaihi] atau
hadit lain " Sesungguhnya diantara obat kalin yang terbaik yaitu
Al-Hijamah atau Bekam [HR Ahmad].
Banyak metode yang dikembangkan oleh ahli bekam khusunya di
Indonesia, salah satunya adalah Bekam Sinergi yang di kembangkan oleh Yayasan
Roemah Bekam Indonesia, yang mana kami Pondok Bekam Indonesia juga telah
mengikuti pelatihannya.
Metode Bekam Sinergi ini digagas oleh seorang dokter yang
lebih banyak berpraktek di pengobatan non medis beliau adalah dr. Ahmad Ali Ridlo . Berikut ini kami
posting ulang tulisan beliau di Yarobbi.com mengenai alasan Kenapa Bekam Perlu
di Sinergikan dengan TCM
ALASAN BEKAM PERLU SINERGI DENGAN TCM
Pada kesempatan kali ini kita akan mempelajari urgensi
ketika kita mempelajari ilmu bekam ini harus kita kombinasikan dengan ilmu TCM
(Traditional Chinese Medicine). Sebelumnya, perlu diketahui bahwa thibbun
nabawi merupakan sebuah istilah atau ide, yang disampaikan oleh para
ulama-ulama kita. Bukan dari rasulullah saw sendiri. Rasulullah shalallahu
‘alaihi wa salam tidak pernah mengatakan bahwa ini thibbun nabawi.
Tetapi dalam banyak hadist ternyata ada beberapa dan bahkan
banyak hadist yang menerangkan tentang gaya hidup sehat yang diamalkan oleh
Rasulullah, bagaimana rasulullah setiap hari menjalani kehidupannya, apa yang
dimakan, bagaimana cara tidurnya rasulullah, bagaimana shalatnya rasulullah,
bagaimana akhlaqnya rasulullah. Semua itu ternyata ketika dicermati dapat
menghasilkan gaya hidup yang sehat.
Kemudian ditambahkan juga, ada banyak atsar (kisah). Ada
seorang sahabat yang datang kepada Rasulullahshalallahu ‘alaihi wa salam dia
menceritakan si A sakit ini dan itu, kemudian rasulullah memberikan obatnya
atau memberikan nasehatnya untuk disuruh minum madu. Ada beberapa hadist-hadist
yang menceritakan anjuran-anjuran rasululullah pada kita semuanya untuk
mengkonsumsi atau menuntun kita menggunakan apa-apa yang sudah disampaikan oleh
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam.
Mengambil Ibroh dari hadist nabi
Di saat kita paham sebuah hadist bahwa kesembuhan itu ada
pada tiga hal, yaitu meminum madu, kemudian sayatan pisau bekam, dan al kay.
Maka dihadist ini didapatkan analisa yang bisa dihubungkan dengan ilmu
pengobatan yang ada pada sekarang ini, terutama dihubungkan dengan dengan ilmu
kedokteran cina. Madu itu bersifat hangat. Madu itu akan segera menimbulkan
energi.
Orang meminum madu akan menjadikan badannya hangat dan madu
sangat cepat diserap oleh tubuh. Maka inilah yang dikatakan madu mempunyai
sifat hangat rasanya manis.
Di dalam ilmu pengobatan tradisional, ramuan yang digunakan
untuk meningkatkan energi maka sifat ramuannya harus hangat dan rasanya manis.
Dua sifat ini akan memberikan energi, yaitu rasanya manis dan sifatnya hangat.
Maka bisa disimpulkan dari hadist ini, Rasulullah saw memberikan kepada kita
pilihan herbal pada tipikal penyakit yang sifatnya dingin atau lemah.
Dingin atau defisien atau lemah energinya ( Qi Xu ) atau
energi yang lemah. Ringkasnya, kekurangan Qi atau energi solusinya adalah
diberikan madu.
Kemudian Rasulullullah shalallahu ‘alaihi wa salam
mengatakan dalam hadist tentang penulis sayatan pisau bekam. Mari kita coba
hubungkan dengan ilmu kedokteran cina. Cara kerja bekam proses awalnya adalah
mengekop atau menghisap, menyayat, kemudian mengeluarkan darah, dan ditampung
dalam sebuah gelas. Prinsip proses bekam yang dilakukan adalah mengeluarkan
panas atau mengeluarkan pathogen ekses . Tepatnya, eksopatogen (pathogen dari
luar) dan penyebab pathogen dari luar yang ekses tipikalnya panas, bukan dingin.
Pathogen dari luar yang ekses ini contohnya adalah pathogen
panas, pathogen angin, pathogen api, yang itu semua harus dikeluarkan dari
tubuh ketika itu semua berhasil masuk ke dalam tubuh kita. Maka perlu diingat
kembali bahwa terapi bekam prinsipnya adalah mengeluarkan panas yang berlebih
sehingga tubuh akan menjadi seimbang. Maka bekam hanya dibolehkan pada kasus
sindrom yang kuat atau ekses atau berlebih dan sindrom panas.
Ketiga, al kay. Al kay ini dalam sebuah buku yang berjudul
“Berguru ke Cina berobat ke Arab” yang ditulis oleh Abdul Karim Amirullah,
beliau menjelaskan bahwa al kay ini untuk kasus yang sindromnya sangat-sangat
dingin. Maka hukumnya, karena dia melukai tubuh dan dapat menyebabkan kecacatan
maka hukumnya dihukumi makruh. Bukan diharamkan, makruh untuk dilakukan. Maka
kalau kita jauhi, kita akan mendapatkan pahala dari Allahsubhanahuwata’ala.
Maka dari ketiga hal yang telah kita uraikan di atas,
penulis menyusun sebuah konsep pemikiran bahwa saat kita akan menterapi
menggunakan thibbun nabawi, kita harus melihat aspek seorang itu mempunyai
sindrom apa?? atau paling tidak kita bisa mengelompokkan seseorang itu ke dalam
kondisi yang bagaimana. Apakah kuat, lemah, panas, kondisi dingin, kondisi
kekurangan materi atau kelebihan materi, beserta jenis pathogennya.
Terapis harus memperhatikan kondisi-kondisi yang mungkin
terjadi sehingga kita dapat menganalisa pasien secara jelas dan akurat.
Ketika merenungkan kembali perjalanan penulis menekuni dunia
pengobatan timur atau dunia thibbun nabawi. Pada awalnya penulis belajar pada
teman-teman yang mengajarkan bekam di Herbal Penawar Al Wahida. Penulis belajar
dengan Ir. Suryono, penulis diberikan pelajaran bekam menggunakan metode
tusukan, tetapi penulis belum menemukan apa sebenarnya esensi dari bekam itu.
Tujuan dari bekam itu esensinya apa. Prinsip kerja bekam itu bagaimana.
Waktu itu penulis belum menemukan, tetapi penulis bersyukur
kepada Allah karena telah mempertemukan penulis dengan pejuang-pejuang yang
mengatasnamakan dan mengusung thibbun nabawi serta sebuah visi untuk
mendakwahkan thibbun nabawi. Penulis sangat bersyukur bertemu dengan
beliau-beliau.
Kemudian penulis melanjutkan belajar kepada Ustadz Khatur
Suhardi. Ustad Khatur memperkenalkan metode bekam yang berbeda dengan yang ada
di teman-teman Herbal Penawar Al Wahida. Beliau menggunakan surgical blade
(pisau bedah). Penulis memahami bahwa metode yang Ustadz Khatur merupakan
perwujudan kombinasi antara thibbun nabawi dengan ilmu medis modern.
Ustadz Khatur memberikan penekanan yang baik bahwa metode
pengobatan yang dipilih harus benar-benar tepat. Tujuannya agar manipulasi yang
dilaksanakan terhadap pasien tidak menimbulkan efek negative kepada diri pasien
itu sendiri.
Penulis pun sepakat dengan metode sayatan seperti yang
diajarkan ustadz Khatur. Metode sayatan sangat bagus dan memungkinkan luka yang
di iris kondisinya baik. Metode sayatan juga akan mentautkan sebuah tautan yang
bagus sehingga dia juga akan sembuh dengan baik pula.
Jika dibandingkan dengan metode tusukan. Pertama, kalau
penulis boleh mengatakan, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam tidak
mengatakan dengan tusukan, tetapi dengan sayatan (Syarthoh). Maka kita sebagai
seorang muslim, kalau menurut pendapat penulis, harus menggunakan sayatan.
Kalau metode tusukan, dia jelas akan ditusuk beberapa kali.
Setelah kita menusuk berapa bagian, kemudian akan ditusuk lagi. Terapis
keluarkan darahnya kemudian dibersihkan, kemudian ditusuk lagi. Kemudian
dibersihkan darahnya dan ditusuk lagi. Proses penusukan berulang inilah yang
dikhawatirkan akan mengakibatkan trauma jaringan.
Dampak lainnya adalah menyebabkan penyembuhan yang tidak
bagus. Berdasarkan pengalaman praktek penulis, metode tusukan ini sangat dalam
masuk ke dalam jaringan tubuh. Terlalu dalam. Dampaknya adalah banyak darah
yang secara ilmu bekam bertujuan mengambil darah yang ada dipermukaan kulit.
Namun yang terjadi, melalui metode tusukan, justru darah yang diambil adalah
darah yang jauh dibawah lapisan permukaan kulit.
Sehingga jika mau dibandingkan antara teknik penulistan
dengan tusukan, dengan syarat penulistan yang benar dan tidak terlalu dalam,
maka darah yang keluar akan lebih banyak yang menggunakan metode tusukan. Bisa
jadi, orang yang dipenulist tidak keluar darah, dengan tusukan darahnya bisa
keluar.
Beberapa alasan di atas itulah yang membuat penulis lebih
merasa mantap menggunakan metode sayatan. Penulis berpendapat metode beliau
(Ust Khatur Suhardi) menyajikan sebuah ilmu yang lebih ilmiah atau lebih bisa
dipertanggungjawabkan dan mempunyai alasan yang jelas. Oleh karena itu, sikap
terbaik bagi seorang pengobat adalah mengikuti mana yang lebih benar atau mana
yang lebih tepat.
Penulis berpendapat, metode ustadz Khatur memberikan
kontribusi yang cukup banyak bagi perkembangan dunia bekam di Indonesia.
Kontribusi yang tak kalah penting beliau mengajarkan konsep bekam yang menuju
step atau arah sterilisitas pembekaman seperti penggunakan alat-alat atau
metode yang menjaga sterilisitas secara medis.
Setelah belajar dari teman-teman Herbal Penawar Al Wahida,
penulis lanjutkan belajar kepada Ustadz Khatur Suhardi, lalu penulis meneruskan
belajar ilmu akupungtur dan Traditional Chinnese medicine. Pada saat belajar
akupuntur penulis mengenal konsep Qi atau energi. Dan konsep Qi atau energi
inilah yang ternyata tidak dipunyai oleh kedokteran barat.
Energi dalam tubuh kita ibarat listrik. Kita melihat sebuah
kabel listrik, kita tidak akan tahu apakah kabel itu ada listriknya atau tidak.
Kita mengetahuinya saat kita memegang kabel lalu terkena setrumnya. Setelah
itu, kita baru menyadari bahwa kabel itu ada energi listriknya, ada Qi- nya.
Seperti yang terjadi pada fenomena orang tersetrum tadi, energi pada diri
manusia juga tidak bisa dilihat. Namun keberadaan energi dapat kita deteksi
dari fenomena ( Manifestasi klinis ) yang dimunculkan oleh energi tersebut.
Kembali ke fenomena listrik. Kita melihat listrik itu ada
yang listriknya mbleret (redup) ada yang cahayanya terang, ada yang lemah, ada
yang sekian watt lebih lemah maka yang 200 watt lebih terang. Maka itulah
konsep energi.
Di dalam tubuh manusia, manusia juga mempunyai energi.
Inilah konsep yang harus kita terima karena disaat kita membekam seseorang,
kita menerapi seseorang kita memberikan herbal kepada seseorang, maka konsepnya
adalah kita menyeimbangkan energi. Baik energi yang berlebih maupun yang
kurang.
Penampakan energi yang berlebih karena terserang eksopatogen
maupun energi yang kurang karena banyak faktor sehingga orang itu jadi lemah.
Maka saat penulis belajar akupuntur itulah penulis menemukan konsep yang
semakin mencerahkan apa yang ada didalam hati penulis, karena pada waktu itu
penulis belum menemukan sebuah alur konsep yang jelas saat hanya belajar bekam
saja.
Karena ada beberapa fenomena-fenomena yang muncul saat
penulis belum belajar ilmu akupunktur. Misalkan, ada kasus seseorang di bekam
malah pingsan. Orang yang dibekam ada yang enak. Ada orang yang dibekam
menimbulkan lebam yang hitam dan ada orang yang dibekam tidak menimbulkan lebam
sama sekali. Ada orang yang dibekam, setelah dibekam merasa pusing, mual,
muntah. Maka itu adalah fenomena-fenomena yang penulis dapatkan setelah belajar
akupuntur.
Jadi konsep energi inilah yang harus kita perhatikan ke
depan. Karena setelah belajar lebih mendalam maka kita semua dapat menyimpulkan
bekam itu akan mengeluarkan energi. Maka dari fenomena yang ada tadi kita bisa
mengetahui bagaimana seseorang itu boleh dibekam atau tidak.
Contoh kenapa orang itu dibekam didalam anjuran di
kitab-kitab thibbun nabawi sebaiknya dalam kondisi perut kosong. Ini jawabannya
penulis temukan pada konsep energi /konsep Qi. Disaat orang dibekam dalam
kondisi perutnya penuh maka pengalaman di lapangan itu, meskipun tidak
semuanya, di dalam ilmu energi tidak ada yang absolute, semuanya relative, yin
dan yang relative. Tidak semua orang yang kondisinya yin itu kekurangan energi,
semuanya relative.
Kembali pada topik permasalahan. Misalkan tadi orangnya itu
dibekam kenapa dianjurkan untuk tidak makan terlebih dahulu. Karena disaat
perutnya penuh dibekam karena bekam itu mengeluarkan energi mengeluarkan panas,
mengeluarkan angin, mengeluarkan darah statis, maka pada saat itu padahal perut
sedang membutuhkan energi. Maka ketika orang itu dibekam dan energinya jadi
lemah maka dia bisa muncul mual, bahkan muntah. Apa sebabnya? Makanan tadi
membutuhkan energi untuk dicerna, ditransformasi, ditransportasi kan yang
membutuhkan energi limpa. Maka pada saat energi limpa lemah maka otomatis
makanan tadi tidak terdorong dan tidak tertransformasi dengan baik. Maka pada
akhirnya dia akan naik ke atas muncul reflek atau gejala mual saat dibekam.
Nah inilah anjuran-anjuran yang ada pada kitab thibbun
nabawi dan tenyata penulis temukan penjelasannya di ilmu akupuntur atau ilmu
tentang konsep energi. Atau ilmu traditional Chinese medicine secara
keseluruhan.
Lalu mengapa bekam itu biasa dilakukan pada tubuh bagian
atas, bagian belakang? Ini adalah sebuah fenomena yang dari dulu semenjak
penulis belum belajar dan mengenal tentang TCM. Penulis bertanya-tanya, mengapa
orang kog kalau membekam selalu yang dibekam adalah daerah punggung. Atau
daerah kepala. Dan ternyata subhanallah, penjelasan hal tersebut bisa ditemukan
dalam konsep TCM. Yakni pada konsep ji atau energi.
Di dalam TCM, karena tujuan kita membekam adalah untuk
mengeluarkan panas yang berlebih. Maka panas merupakan sebuah pathogen luar.
Sifat panas itu membumbung ke atas. Maka kalau kita melihat orang yang panas,
daerah yang muncul panasnya adalah daerah kepala, daerah dahi, daerah belakang
kepala, rasanya kenceng. Kalau kita meraba atau melihat seseorang yang panas,
kita tentu memegangnya dikeningnya. Atau di dahinya. Karena panas yang ada
ditubuh itu pasti akan naik ke atas. Karena panas, dia akan membumbung ke atas.
Maka disaat bekam itu tujuannya adalah mengeluarkan panas
maka kita mengambil titiknya tentu yang ada di daerah atas dan daerah belakang.
Kalau dalam ilmu yin yang, daerah atas itu yang, daerah bawah itu yin. Daerah
depan tubuh itu yin, daerah belakang itu yang. Maka inilah penjelasan mengapa
bekam pada tubuh bagian atas dan bagian belakang. Kenapa kog jarang orang
dibekam di daerah kakinya.
Kenapa lagi kog titik al kahil dalam suatu hadist dikatakan
bisa untuk menyembuhkan banyak penyakit, 72 penyakit. Penulis kembali menemukan
jawabannya di ilmu akupungtur. Titik Da Zhui atau titik Du 14 itu merupakan
titik yang di sana lewat enam meridian Yang. Enam meridian yang sifatnya panas.
Maka kalau kita hubungkan dengan konsep dasar bahwa thibbun nabawi itu
menganjurkan untuk penyakit-penyakit yang tipikal panas, maka sangat cocok
titik Da Zhui ini selalu diambil.
Guru-guru bekam kita itu ketika mengajarkan bekam selalu
memerintahkan atau selalu menganjurkan apapun penyakitnya maka titik Da Zhui
atau titik punuk al kahil selalu diambil. Tetapi penulis menambahkan, dengan
syarat. Boleh kita mengambil titik itu dengan syarat masuk dalam kiteria
sindrom kuat dan panas.
Contoh-contoh pertanyaan yang selama penulis belajar bekam
ternyata terjawab di TCM. Terus ada fenomena lain seperti:saat baru di kop
kering sudah muncul lebam merah pada area yang dikop itu. Kemudian ada yang
dikop tetapi tidak berwarna merah, tidak berubah sama sekali bahkan dia
dibekam, di area yang dibekam itu malah tambah pucat. Maka itupun penjelasannya
kita dapatkan di TCM.
Di saat seseorang di kop, dibekam, lalu berwarna merah itu
berarti bahwa Qi Xue ( Energi dan darah ) itu sampai pada daerah itu. Maka
patokan mudahnya kalau kita tidak paham mengenai ilmu tentang TCM disaat kita
bekam kering akan dilanjutkan dengan bekam basah atau tidak adalah di lihat
lebamnya ada atau tidak, perubahan warna kulit jadi merah atau tidak. Maka itu
syarat yang terpenuhi untuk dilanjutkan dengan sayatan atau dilanjutkan
pengambilan darah.
Di saat area yang kita kop tidak berubah atau cuma jadi
pucat saja atau tidak ada perubahan sama sekali, maka menandakan Qi Xue nya
lemah. Energi dan darahnya orang ini dalam keadaan yang lemah. Maka tidak boleh
diadakan proses pembekaman (bekam basah). Kalau dilanjutkan dengan proses
pembekaman, maka penulis katakan inilah malpraktek hijamah.
Sebab tidak sesuai dengan tujuan awal kita, bekam itu
mengeluarkan panas. Mengeluarkan energi yang berlebih. Mengeluarkan angin, api,
yang itu harus dikeluarkan untuk menyeimbangkan keseimbangan pada tubuh
sehingga tercapailah keseimbangan sehingga badan menjadi sehat. Penulis
dapatkan penjelasan ini dari ilmu kedokteran timur/TCM.
Ada banyak hal yang penulis dapatkan di TCM, maka marilah
kita ini selalu belajar TCM. La setelah penulis belajar akupuntur ternyata
kasus demi kasus muncul demikian rumit sehingga memerlukan kombinasi-kombinasi
dengan yang lain. Karena intinya kita sebagaii seorang muslim harus yakin
likulli da’in dawa’un fa idza usibat da waut dai bara’a bi idnillahi
‘azawajalla. Setiap penyakit itu ada obatnya. Jika obat itu tepat mengenai
penyakit maka akan sembuh dengan izin Allah ta’ala pada orang itu.
Jadi ketika ada orang yang mengatakan penyakit A itu tidak
ada obatnya, maka kalau penulis boleh mengatakan orang itu mendahului takdir
atau kodratnya. Sebab rasulullah saw tidak mengatakan yang seperti demikian
itu. Rasulullah katakan setiap penyakit itu pasti ada obatnya. Rasulullah itu
katakan jika Allah turunkan suatu penyakit, Allah turunkan pula obatnya.
Permasalahannya adalah saat kita ini menghadapi suatu
penyakit, obat itu sudah banyak di sekitar kita. Permasalahannya mungkin kita
tidak tahu apa itu penyakitnya. Atau sebaliknya, kita sudah tahu obatnya tetapi
kita tidak bisa mempertemukan obat itu dengan penyakitnya. Maka inilah perlu
kecermatan diagnosis, perlu ketrampilan diagnosis, perlu sebuah keahlian
diagnosis bagi kita semuanya, untuk menjadikan thibbun nabawi ini menjadi
sebuah pengobatan utama Bukan yang alternatif lagi itu ditentukan oleh kita semuanya.
Marilah kita mengilmiahkan apa yang ada di thibbun nabawi
sehingga para dokter juga akan menerima apa yang kita sampaikan. Kita buktikan
bahwa bekam banyak sekali manfaatnya. Terutama khususnya untuk
penyakit-penyakit yang sindrom she atau ekses atau re atau panas.
Demikianlah penjelasan mengapa kita perlu mensinergikan TCM,
thibbun nabawi, dan modern medicine. Sadarilah, di thibbun nabawi juga sudah
dijelaskan oleh ibnu hajar al asqolani bahwa habatussauda hanya untuk
menyembuhkan penyakit yang tipikalnya dingin. Itu sudah dikatakan oleh ulama
kita. Ibn hajar al atsqolani rahimahullah ta’ala mengatakan yang demikian.
Oleh karena itu kita harus belajar. Apa itu pathogen panas,
Sindrom Penyakit panas? Apa itu sindrom penyakit dingin? Itu harus kita pelajari
sehingga kita akan memberikan ketepatan diagnosa, ketepatan herbal, ketepatan
melakukan sebuah terapi pada pasien-pasein kita.
Jangan sampai kita ini menggunakan pemikiran-pemikiran atau
sebuah analisis dengan teknik ‘kayaknya’. Kayaknya pasien ini cocok dibekam.
So, kita semua ini harus belajar terus tingkatkan keilmuan kita. Wallahu’alam
ditulis oleh dr Achmad Ali Ridho (Penggagas Konsep Bekam
Sinergi)



0 komentar:
Posting Komentar